Kamis, 03 Desember 2009

Honda GL100 1979 (Purwokerto)
Kolibri Jantan

3095gl-100-andika-1.jpgAhli hewan di Amerika sudah akhiri perdebatan tentang siulan burung kolibri Jantan. Iya, Kolibri Jantan bersiul untuk menarik simpati kolibri betina. Cristhoper Clark dan Teresa Feo dari Museum of Vertebrata Zoology di Universitas California Berkeley yang dapat pecahkan persoalan itu.3096gl-100-andika-2.jpg

Builder Banyumasan juga ikut berdebat soal kolibri. Bukan soal siulan, tapi soal gaya aplikasinya di modif motor. Suswanto from Billy Custom, Purwokerto, klaim doi bikin Honda GL100 1979 bikin Kolibri jantan. "Bikinan saya ini jantan. Sebelumnya modif kolibri betina sudah pernah ada kan?" terang Suswanto.

3097gl-100-andika-3.jpgMaksud Suswanto, desain bentuk bodi GL cepek lebih diilhami bentuk kolibri jantan (Anna's Hummingbird Male). Meskipun, sektor depan tidak dibuat meruncing. "Karena motor akan terkesan lucu bila mulut kolibri diterapkan dimotorku," papar Wanto terkekeh. Makanya untuk head lamp dibikin sesederhana mungkin namun tetap mempertahankan estetis. "Aku pasang reflektor Satria F-150 tanpa visor, agar terlihat naked bike dari depan" imbuh Wanto lagi.

Ditunjang bentuk tangki bensin, lekukan diibaratkan badanya kolibri yang sedikit cembung di atas. Dipadu shroud yang menyatu dengan tangki. "Shroud ini sebagai sayap kolibri yang sedang mengepak ke bawah," jelas builder yang terkenla ramah senyum ini.

Makanya, Wanto keukeuh kalau garapan ini tergolong dalam kolibri jantan. Cirinya karena ada tiga lekukan sebelum mencapai ekor. "Runcing pada ujungnya bukan membulat tapi hampir mirip dengan ujung tombak" bangga Wanto. Iya deh..iya.

DATA MODIFIKASI


Ban depan : Swallow 110/70-17
Ban belakang : Dunlop 150/60-17
Sok belakang : YSS
Cakram : PSM

Gagal Contezt

3304mx-bandung---endro-1.jpgSayang sekali Yamaha Jupiter MX 135 LC ini gagal ikut Yamaha Mofest 2 di Bandung karena telat hadir. Panitia hanya memberikan kesempatan display only. Pelajaran yang sangat berharga tentunya, sebab peluang menggondol piala terbang sudah. Padahal melihat ubahanya sangat layak untuk menjadi yang terbaik di salah satu kelas.

Budi Rahmanto atau Big sang modifikator tidak bisa berbuat apa-apa lagi. "Aturan panitia memang harus ditaati," katanya lemes.

Modifikasi yang dilakukan Big mengambil tema sporty futuristik. Tapi hebatnya untuk mendapatkan kesan masa depan tadi, dia tidak mengambil bodi part dari motor baru.3305mx-bandung---endro-2.jpg Terbukti bisa didapat dengan komponen motor harian biasa.

Misalnya untuk lengan ayun yang menggunakan limbah Honda NSR150 SP. Komponen ini bisa tergolong lawas karena aslinya beredar di Indonesia pada 2001 yang lalu. Saat ini harganya sekitar Rp 6 juta untuk pro arm dan pelek belakang.

"Tapi meskipun barang lama tapi karena bentuk lengan ayun tunggal itu maka tetap seolah futuristik," kata modifikator bertubuh besar ini.

3306mx-bandung---endro-3.jpgBegitu juga untuk sektor bodi. Keahlian pria ini dalam mendesain bodi memang layak diacungi jempol. "Untuk rangka belakang dibabat abis diganti pipa baru ukuran 1,2 inci," lanjutnya.

Bentuk bodi yang diambil adalah single seater dengan buntut sedikit terilhami dari Yamaha R6. "Seluruh bodi baru ini menggunakan fiber," ucap pemilik bengkel di kawsan Pisangan, Jakarta Timur ini.

Kejelian Big kembali terlihat saat memilih lampu depan dan belakang. Tak harus repot cari lampu mahal, cukup menggunakan yang sudah pasti banyak beredar di pasaran. Unik dan tentu juga bisa menekan budget belanja modifikasi.

"Untuk stop lampnya pakai punya Suzuki Shogun," ucapnya. Tentu saja ada penyesuaian dengan desain buntut yang sudah runcing dan menungging itu.3307mx-bandung---endro-4.jpg

Sedang head lamp mencomot punya Yamaha Mio Soul. Lampu ini memang pernah diulas sebagai salah satu model yang paling digemari modifikator.

"Bentuknya sangat bagus terutama tarikan di sudut atas lampu yang cocok dengan model MX ini," tambah Budi lagi.

Permainan fiber yang juga cukup unik pada desain tutup rantai dan sepatbor belakang murni karya Big. "Simpel memang, tapi pas dengan bentuk bodi baru secara keseluruhan," tutup Big masih tetap lemes karena telat hadir.

DATA MODIFIKASI

Pelek : Honda NSR SP
Ban depan : Battlax 90/80-17
Ban belakang : Battlax 120/70-17
Sok belakang : YSS
Knalpot : Custom

Jawara Matic 125 Open

3401beat1.jpgHonda BeAT geberan Tomy Patria ini sakses naik podium satu di kelas 125 cc open di balap skubek yang pentas di Tasikmalaya beberapa waktu lalu. Otomatis raih hadiah utama Suzuki Spin 125 persembahan dari knalpot AHRS yang wajib dipakai di kelas ini. Selamat ya, Bro!

Di balik layar disupport Senaponda dari Padepokan Pertamina Enduro Matic Depok. Sena yang terkenal banyak omong dan sedikit lebay itu didaulat sebagai jubir. Bukan juru bibir, tapi juru bicara. Katanya untuk mendongkrak tenaga mesin BeAT gampang dan bisa ditiru untuk harian.

Di pasaran sudah tersedia piston untuk BeAT yang turun di kelas 125 cc. “Buatan FIM-BRT punya diameter 53,75 mm,” jelas Senaponda yang kerap gonta-ganti sponsor itu. Lha, malah jualan dia!

Manurut Sena, menggunakan piston 53,75 mm tidak melanggar regulasi. Menggunakan stroke standar BeAT yang 55 mm tidak lebih dari 125 cc. “Kapasitas tepatnya 124,7 cc,” jelas Sena yang protes ketika scrut dijumpai pembalap pakai piston 54 mm.3402beat-adib-2.jpg

Penerapan piston FIM-BRT harus didesain ulang bagian kepalanya. Piston asal jenong dan bibir samping dari got ring piston ke atas mencapai 3,5 mm. “Supaya aman dibikin 2,5 mm,” jelas Sena.

Dengan demikian, dek clearance ketika piston berada di TMA, masih ada sisa 0,5 mm. Masih aman tidak terjadi tubrukan. Kondisi itu juga bikin kompresi lumayan pas. Rasionya 12,5 : 1. Masih aman dipadu Pertamax Plus yang juga wajib pakai di ajang itu.

Namun untuk pakai piston Izumi harus benar-benar cari solusi lain. Ring piston dicarikan yang pas. “Silakan ambil punya Suzuki Shogun 125 oversize 25,” jelas Sena.

Selanjutnya tinggal mainkan kepala silinder. Sena tidak main papas atau ubah posisi lubang inlet. Padahal aslinya lubang isap BeAT miring dan harus diluruskan supaya flow gas bakar bagus.

3403beat-adib-3.jpgKatanya cukup memanfaatkan lubang isap standar. Termasuk intake manifold juga standar. “Hanya main polis porting,” jelas Sena yang beristri mojang Bandung itu.

Untuk mengakali lubang inlet yang miring, dimainkan dari bentuk lubang. Pada posisi bos klep kiri-kanannya dilebarkan. Sena menyebutnya dengan istilah flow devider. Bentuk flow devider persis seperti perahu terbalik. Atau seperti lambang love atawa cinta. Itu untuk mengakali besar lubang inlet tetap sama dengan bagian lain.

Baru deh kem diatur ulang. Durasinya dibikin lagi menggunakan gerinda. Durasi klep isap 37°+180°+60°=277°. Sedang klep buang 59°+180°+40°= 279°.

Klep juga tidak diganti. Mengandalkan standar juga sudah cukup besar. Klep in 25,5 mm dan ex 21 mm. Ini batasan maksimal dari kelas 125 cc.

Lainnya mengandlkan koil ND buatan Malaysia untuk motor 2-tak. Pengapian pakai CDI BRT i-Max 20 Step. Timingnya 12,5° pada 2.100 rpm dan maksimum 37,5° pada 5.000-6.000 rpm. Peak 34° pada 10.000 rpm dan limiter 28° pada 12.000 rpm.

Hasilnya tenaga mesin 13,5 dk pada dynotess milik AHRS. BeAT geberan Tomy Patria ini bersaing ketat dengan BeAT pacuan Nurgianto. Pada race 1 Nurgianto finish pertama, Tomy kedua. Di race 2, sebaliknya!

DATA MODIFIKASI

Ban : Indotire 80/90x14
Knalpot : AHRS
Karbu : Reamer 24,5 mm
Pilot/main-jet : 38 dan 110
Per klep : Password

Senin, 30 November 2009

Belajar Modif


GL-Pro Neo '97

Data modifikasi:
pelek : Sprint tapak Lebar
ban depan : Mizzle vtx 100/17
ban blkg : Delitire 130/17
swing arm : Jupiter MX
monoshock : Satria
knalpot : LHK Racing Muffler
setang : Renthal
kedok lampu : Satria F150
cakram blkg : Satria 120
tangki : MegaPro new
mesin : Over Size 25
sasis : Handmade ( model Ducati Hypermotard)

Laen kalee nyusul lg, postingan t'barunya....!!!!